Wednesday, January 19, 2005
ASIA
jika kali ini tidak,
mungkin kita perlu gempa lebih,
untuk meruntuhkan bangunan kesombongan,
untuk membongkar sekat kepicikan,
untuk mengubur naluri merusak,
dalam wajah-wajah agama.
jika hari ini tidak,
pasti kita rindu tsunami lebih,
untuk menghempas kuil keserakahan,
untuk menggerus onggokan keakuan,
untuk menghanyutkan nalar membusuk,
dalam wajah-wajah tuhan.
jika tidak itu semua,
baiklah kita kembali ke masa lalu,
ketika asia belum mengada,
ketika agama belum menemukan bentuknya,
ketika tuhan hanyalah sebuah kata.
mBin
050119
mungkin kita perlu gempa lebih,
untuk meruntuhkan bangunan kesombongan,
untuk membongkar sekat kepicikan,
untuk mengubur naluri merusak,
dalam wajah-wajah agama.
jika hari ini tidak,
pasti kita rindu tsunami lebih,
untuk menghempas kuil keserakahan,
untuk menggerus onggokan keakuan,
untuk menghanyutkan nalar membusuk,
dalam wajah-wajah tuhan.
jika tidak itu semua,
baiklah kita kembali ke masa lalu,
ketika asia belum mengada,
ketika agama belum menemukan bentuknya,
ketika tuhan hanyalah sebuah kata.
mBin
050119
Wednesday, October 22, 2003
langkah langkah kecil
langkah langkah kecil
tiba juga saatnya.
kaki kaki kecil itu, menjelajah penjuru rumah, menjejaki dan menandai sentuhannya dengan isyarat bau warna pertumbuhan.
tangan tangan kecil itu, menggapai ketinggian, menarik memencet melempar memukul memberantakkan jamahannya dengan gerak keingintahuan.
dan tubuh kecil itu jatuh bangun, jatuh lagi untuk bangun kembali, dengan meyakini bahwa semua tempat adalah wilayah permainannya.
mulut kecil itu, menyuarakan meneriakkan kesenangan keheranan ketakutan kemarahan kesedihan, ribuan ramuan luapan serpihan emosi yang pasti dan tak pasti, tak terpermaikan dan tak terjelaskan.
mam... mam... mamm... mamamamm... pap... pap... pap... papapappp... babb... babb... babb... baababbb... mbing... mbing... mbing... mbinggggg... aahhhhhh !! aaaaa !!!
dan itu,
anakku lanang !!
mBin
september 2001
keabadian itu
keabadian itu
tepat di ulangtahunmu, waktumu terhenti juga, akhirnya.
dan keabadianmu itu datang menjemput, setelah sekian kali datang dan pergi untuk sekedar menengok, dan sekian kali menyisakan semangat terbelah dalam tubuh lungkrah.
sungguh, aku tak tahu ! haruskah ia kukutuki lagi, seperti kali lalu saat ia menjemput orang-orang yang kukasihi.
sesalku, kenapa aku tak sempat menemuimu, dalam sehat dan langkah kehidupan tahun-tahun lalu, apalagi saat lungkrah dan sakit tubuhmu. juga untuk berbagi cercahan bahagia ketika mendampingi anak-anak-mu di altar.
damaiku, kuyakin kau tetap di sana, menjaga yang kaucinta.
mBin-juli2001
in-memoriam oom no salatiga
re: jangan kau ragu
re: jangan kau ragu
pelan,
dan pelan
bersama sutra hitam yang tertiup angin,
hingga tak ada yang mengikatmu lagi.
bebas,
dan bebas
bersama air mata yang baru jatuh dari pelupuk,
dan menyebar sebelum sampai ke tanah.
tak ada pintu untuk dibuka,
tak ada selimut untuk disibak,
bebas,
bebaskan diri !!
2001
===
Wednesday, October 08, 2003
MERDEKALAH SELALU !
:hl
merdekalah kawan, selalu !
kala lewati tiang-tiang penanda dan tapaki batu-batu penjuru,
juga jika itu, hanya tiang-tiang dan batu-batu.
peliharalah kawan, merdekamu !
dalam langka merdeka dunia lama dan teriak merdeka dunia baru,
juga jika itu, hanya teriak langka yang malu dan wagu.
berartikah kawan, merdeka kata ?
tanpa merdeka hati, merdeka diri, merdeka prasangka dan merdeka mereka,
juga jika itu, hanya.
mBin
030619
Tuesday, October 07, 2003
KALAH MENANG
sudah sejak lama, dari tahun ke tahun, selalu kusisipkan setumpuk persiapan, untuk kalah atau kekalahan.
dan ketika tahun demi tahun terlewati, dengan kalah dan kalah lagi, dengan kekalahan dan kekalahan lagi, tak ada gejolak, tak ada hentak, seolah kekalahan adalah sebuah kelengkapan, untuk sebuah perjalanan. dalam tiarap, dalam harap.
untuk kemenangan, dulu sekali memang pernah kusiapkan, namun ternyata tak cukup bertahan dalam gerusan waktu, di tahun demi tahun kekalahan.
ketika kemenangan menyambangi di suatu pagi, yang katanya ingin tinggal bersama untuk hari-hari selanjutnya, hanya kejut hanya gagap, tak ada siap tak ada tempat. dalam gamang yang menemani, malah jebol segala perisai, karena hanya sampah serapah energi kekalahan menahun yang kemudian menguasai.
ihwal sang kemenangan, rupanya tak tahan lagi, diam diam ia pergi, meninggalkan hiruk pikuk hati, bahkan sebelum tengah hari.
memang masih ada teriakan-teriakan kemenangan setiap pagi, yang mengajak hilangkan rasa takut pada si lama yang baru dikalahkan. juga masih ada teriakan untuk tak perlu segala siap, apalagi hanya untuk sejumput kekalahan, pun untuk sebongkah kemenangan.
karena segala siap telah lenyap, tergerus dalam banjir yang menenggelamkan nurani. samar bayang-bayang kemenangan yang pergi ternyata hanya senyum sambil megucap selamat datang kembali, pada kekalahan, yang dulu menguasai. dan kali ini, tanpa tiarap, tanpa harap.
020408
======
Monday, October 06, 2003
CINTA?
bagaimana cinta dirasa,
jika benci tak pernah menyapa ?
---